Artikel

Ayo Terpaksa Menulis dan Membaca

Maulani F. Salilana | @lalafaradina

LALAJaman sekarang, jarang ada anak muda yang memiliki kesenangan untuk membaca, apalagi menulis. Jika memang ada, maka akan dipandang anak yang kutu buku atau gak asyik. Padahal dengan melakukan kedua hal itu dapat memperkaya pengetahuan kita, membuka wawasan dan tentu saja membuat kita tau banyak hal.

Saya pertama kali terpaksa membaca ketika mulai masuk sekolah, tentu saja karena itu adalah syarat untuk bisa masuk sekolah. Namun yang saya akan bahas bukan hal itu, bukan tentang belajar menyebutkan kata perkata atau mengeja, namun membaca disini adalah bagaimana cara kita untuk mengambil intisari dan manfaat dari apa yang kita baca, yang bisa memberikan pengaruh yang baik terhadap kita.

Saya terpaksa menyukai sastra sejak SMP, Bahasa Indonesia bukan mata pelajaran kesukaan saya, karena Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang cukup rumit, harus berkutat dengan majas, imbuhan-awalan, ejaan yang disempurnakan dan lain lain. Namun saya selalu mendapatkan nilai tinggi untuk mata pelajaran ini. Lalu ketika awal masuk SMA, saya terpaksa mau ditunjuk oleh guru untuk mengikuti lomba menulis cerpen untuk tingkat Kota Samarinda, untuk bisa mengikuti ini seleksi yang diadakan sekolah cukup sulit, saya diminta untuk menulis cerita sebanyak 4 halaman ukuran folio bergaris namun tidak boleh ada coretan sedikitpun, sehingga apa yang ditulis harus dilanjutkan dan diselesaikan. Ketika mengikuti lomba pun saya sempat tidur beberapa saat karena memang kehabisan ide, bagi saya menulis itu harus dalam keadaan rileks sehingga saya terpaksa lagi untuk menulis disisa waktu yang telah disiapkan oleh panitia dan kagetnya saya keluar sebagai pemenang kedua untuk lomba menulis cerita pendek.

Tidak sampai disitu, 2 tahun berikutnya saya kembali diminta mewakili sekolah untuk Olimpiade Sastra tingkat Provinsi Kalimantan Timur, cukup terkejut mengapa saya yang ditunjuk untuk mewakili sekolah karena saya mengambil jurusan Sains dan menurut saya banyak yang lebih pantas untuk mewakili sekolah. Saya terpaksa membaca kembali literatur, buku majas dan lain-lain untuk mempersiapkan diri mengikuti olimpiade dan ketika itu harus mengikuti karantina selama 3 hari. Walaupun tidak keluar sebagai pemenang, namun saya cukup senang karena bisa bertemu dengan teman – teman yang menyukai sastra dan kami difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur untuk membentuk komunitas Bengkel Sastra.

Saya terpaksa menjadi sangat jatuh cinta dengan sastra, dan saya memiliki keinginan untuk melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra. Namun, ya bisa ditebak, keinginan saya tidak sejalan dengan keinginan orangtua saya yang ingin anak perempuannya mengambil kuliah teknik. Karena kesukaan saya yang lain adalah menggambar, saya mengambil kuliah arsitektur. Selama kuliah S1 saya disibukkan dengan kegiatan perkuliahan sehingga tidak terlalu banyak mengikuti kegiatan di luar, namun saya tetap menyempatkan diri untuk membaca buku-buku non fiksi kesukaan saya ketika memiliki waktu luang. Lalu ketika saya lulus dan kembali ke kota kelahiran saya untuk bekerja, saya merasa hidup saya kurang seimbang karena waktu saya banyak untuk bekerja saja, saya merasa saya harus melakukan sesuatu. Kemudian saya mengumpulkan teman-teman untuk menginisiasi suatu gerakan yang bernama Samarinda Menyala, sebuah gerakan literasi untuk menyalakan kembali minat baca dan masih di bawah payung sebuah gerakan besar bernama Indonesia Mengajar. Saya kembali menemukan hidup saya, bisa berbuat banyak untuk kota kelahiran dengan hal yang saya sukai itu sangat menyenangkan. Dan berada di komunitas yang berisi orang-orang yang memiliki kesukaan serta visi misi yang sama membuat saya lebih positif dan lebih menyukai membaca.

Sekarang saya sedang menyelesaikan studi magister saya dalam bidang arsitektur, dan saya merasa berada di jalur yang tepat karena mengambil alur riset. Saya ditantang untuk lebih banyak tau, lebih banyak membaca buku dan jurnal-jurnal ilmiah, lebih peka terhadap keadaan sekitar namun tetap dalam lingkup arsitektur, sedikit berbeda dengan apa yang saya dapatkan ketika kuliah S1 yang lebih banyak merancang. Tentu hal ini lebih memperkaya pengetahuan saya.

Membaca, menulis dan arsitektur. Tiga hal yang saya sukai ini ternyata bisa membentuk sebuah perpaduan yang menarik. Semua diawali dengan keterpaksaan, tapi sekarang saya tidak menyesal karena sudah terpaksa melakukan semua itu, karena ketiganya membawa saya menjadi saya yang sekarang. Terkadang untuk menjadi baik memang awalnya harus dipaksa, kawan.