Artikel

Mengapa Arsitek (dan Desainer) perlu Membaca (dan Menulis)?

Agus S. Ekomadyo

Disampaikan dalam Forum Diskusi “Membangun Budaya Menulis Arsitektur”

Institut Teknologi Bandung, 20 Januari 2017

 AGUS EKOMADYOAkhir-akhir ini gagasan mengenai literasi masyarakat menguat kembali beberapa diskusi publik. Pemicunya adalah makin banyaknya berita palsu (hoax) di media sosial kita. Beberapa pemikir menyebutkan, banyak beredarnya berita palsu diakibatkan sangat rendahnya minat baca dibandingkan dengan sangat tingginya penggunaan media sosial oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat jauh lebih banyak berbicara daripada membaca (dan mendengar). Akibatnya kemampuan menelaah dan menyaring suatu informasi menjadi sangat rendah.

Literasi secara umum diartikan sebagai kemampuan untuk membaca. Beberapa kalangan mengartikannya mirip dengan pengertian “iqra” dalam tradisi Islam. Kemampuan literasi sering dikaitkan dengan kemampuan mengambil jarak seorang pengamat dengan yang tengah diamati. Dengan kemampuan ini, seorang pengamat menempatkan diri dengan baik dalam mengungkapkan pendapat, sehingga pendapatnya bisa lebih jernih dan objektif.

Di dunia arsitektur di Indonesia, isu literasi belum mendapatkan perhatian yang serius. Sebagian besar arsitek di Indonesia masih disibukkan oleh perjuangan untuk mencari nafkah atau mendapatkan pengakuan atas karya-karya mereka. Namun beberapa pemikir mulai mempertanyakan kontribusi arsitek, tepatnya ilmu arsitektur, bagi masyarakat Indonesia secara lebih luas. Banyak program studi Arsitektur didirikan di Indonesia namun mengapa kondisi arsitektur di Indonesia masih jauh dari norma-norma yang diajarkan di pendidikan arsitektur tersebut? Banyak arsitek-arsitek hebat, namun mengapa hanya sedikit kelompok masyarakat yang bisa mengakses pengatahuan arsitektur mereka? Memang masti perlu dikembangkan pemikiran lebih lanjut kaitan antara literasi arsitektur dengan lemahnya kontribusi ilmu arsitektur bagi masyarakat Indonesia.

 Apakah ini disebabkan karena arsitek dan ilmu arsitektur di Indonesia masih belum mampu membaca kondisi, permasalahan, dan kebutuhan masyarakat Indonesia? Jika memang diakui demikian, bisa jadi kelemahan ini akibat dari tradisi arsitek yang cenderung untuk memilih bekerja (berpraktik) daripada membaca. Banyak arsitek (dan mahasiswa arsitektur) yang alergi terhadap buku-buku teks: yang lebih disukai adalah buku yang banyak gambarnya atau majalah-majalah arsitektur. Melihat gambar memang jauh lebih mengasyikkan dan bisa langsung dirujuk untuk membuat bentuk-bentuk arsitektur. Pemikiran di balik lahirnya suatu bentuk sering kurang mendapat perhatian.

Kesukaan desainer yang berpikir secara visual (visual thinking) acapkali mendorong ketidaksukaan untuk berpikir secara tekstual (textual thinking). Dalam praktik, ketika mendapatkan tugas, sebagian besar arsitek langsung mengeksekusinya dengan menggambar: rasanya arsitek (dan desainer) dianggap belum bekerja kalau tidak menghasilkan gambar. Proses untuk berpikir, membaca persoalan yang akan direspon, dianggap bukan pekerjaan arsitek (desainer) yang pantas dihargai. Sempat pada suatu masa, arsitek yang lebih banyak bekerja melaluin tulisan dianggap mempunyai kasta yang lebih rendah daripada mereka yang berkarya nyata (“kalimatur vs arsitektur”). Sindiran ini ternyata juga berlaku di kalangan desainer: seorang pemikir desain sering dicibir dengan ungkapan “teori wungkul” karena lebih banyak menghasilkan tulisan pemikiran daripada produk-produk desain.

 Namun di sisi lain, beberapa alumni arsitektur dengan percaya diri mengembangkan pemikiran arsitektural mereka dalam bentuk tulisan. Dan tulisan-tulisan mereka mendapatkan penghargaan sebagai artikel terbaik dalam Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia tahun 2016. Atas prestasi tersebut, diselenggarakan forum diskusi tentang Budaya Menulis Arsitektur, yang akan menjadi ruang berbagi pengalaman tentang menulis dan membaca arsitektur. Heri Andoni sebenarnya senang membaca sejak SMA, namun kemudian sempat tidak berkembang saat mengambil kuliah S-1 Arsitektur karena lebih banyak tugas-tugas praktik, dan mendapatkan kesempatan untuk lebih banyak membaca saat mengambil kuliah S-2. Irfan Irwanuddin justru mulai senang membaca setelah lulus S-1, dimulai dari membaca biografi hingga kemudian membaca karya sastra dan filsafat, dan baginya menulis menjadi cara untuk menyusun pemikiran secara tertata dan mudah dipahami oleh orang lain. Yulita Hanifah sejak kecil memang sudah terbiasa membaca karena pengaruh keluarga, dan sebenarnya lebih suka membaca daripada merancang. Maulani Faradina sebenarnya sejak awal ingin mendalami sastra, teknik arsitektur dipilih karena dianggap lebih feminin, arsitektur kemudian lebih menjadi hobby dan tidak melulu profesi, dan kemudian banyak mengembangkan komunitas untuk mendorong minat baca. Atika Almira mendapatkan pelajaran berharga saat menulis dan membaca, dan melihat bahwa arsitektur tidak melulu terima brief-rancang-bangun, tetapi banyak lapisan-lapisan ilmu yang terus bisa digali dan menghadirkan keasyikan-keasyikan tersendiri.

 Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan adanya apresiasi terhadap berpikir teks bagi arsitek, terutama di kalangan pendidikan arsitektur. Selain mencari nafkah, perjuangan arsitek untuk diakui keberadaannya oleh masyarakat saat gagasannya bisa diterima dan kemudian bisa membuat orang lain bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Perjuangan ini acapkali diarahkan untuk membuat karya arsitektur. Namun keberhasilan karya arsitektur membutuhkan usaha, biaya, tenaga, dan waktu yang sangat banyak, dan sering berhadapan dengan banyak kekuatan dan kepentingan yang sering mengurangi keberhasilan suatu karya arsitektur. Maka teks adalah alternatif untuk mengemukakan gagasan arsitektural kepada masyarakat luas dengan lebih murah, ringan dan singkat. Sejarah membuktikan, tulisan yang berisi pemikiran mendalam dari pembacaan cermat tentang suatu kondisi, ternyata sangat mampu mempengaruhi masyarakat, karena pemikiran ini dinilai mampu memandu masyarakat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Kemampuan membaca/ literasi diharapkan mampu membuat arsitek bisa mengambil jarak dengan apa yang dikerjakan dan karya-karya yang dihasilkan. Arsitek mampu memahami sendiri dan lingkungan dan masyarakatnya, sehingga dengan tepat dan bijak menempatkan diri dan kontribusi pemikirannya bagi masyarakat. Dengan penempatan diri yang tepat, pengetahuan arsitektur diharapkan bisa memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat, karena menjadi bagian dari perjuangan masyarakat untuk mencapai suatu kehidupan yang lebih baik.

 Bagaimana membangun budaya membaca di kalangan arsitek? Forum diskusi ini menawarkan budaya menulis arsitektur. Membaca memang tidak harus menulis, tetapi menulis mengharuskan membaca. Tulisan yang baik hanya bisa dihasilkan oleh orang yang banyak membaca. Ke depan perlu dibuatkan aneka forum agar para arsitek bisa menuangkan gagasannya ke publik lewat teks. Seperti Ganeca yang mematahkan gadingnya untuk menjadi pena demi menuliskan yang diwartakan sang Guru kepadanya, maka tradisi menulis bagi arsitek pun menjadi sarana untuk menuliskan pengetahuan tentang kehidupan yang lebih baik buat masyarakat lewat arsitektur.