timit1Wajah-wajah mereka terlihat antusias, seakan-akan ada rasa keingintahuan yang menuntut segera dijawab. Mereka begitu menyimak dengan seksama ke arah kakak-kakak yang sedang menjelaskan, seolah tidak ingin ketinggalan setiap momennya. tetapi sesekali pula mereka saling berbincang dengan teman didekatnya, dan bergerak bebas sekehendak hati mereka. Begitulah adanya, lumrahnya anak-anak seusia mereka dalam menerima pelajaran yang diberikan, dengan kepolosan dan keluguannya, yang kadang mengundang para orang dewasa untuk tersenyum menyaksikannya.

Hal diatas adalah sekilas pengamatan saya mengenai acara sosialisasi mitigasi bencana di kalangan usia dini yang dilakukan oleh rekan-rekan dari komunitas Jaga Balai di lokasi Kampung Rancabali, Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung (26/12).  Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 40 anak-anak usia dini yang berasal dari Taman Pendidikan Alqur’an (TPA) di sekitar wilayah Kampung Rancabali.

timit2Dalam kegiatan ini, ada berbagai materi yang diberikan selama kurang lebih dua jam, tema besarnya seputar bencana banjir yang memang sering melanda wilayah ini. Ada materi tentang proses terbentuknya hujan, ada mengenai faktor penyebab banjir serta hal apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya, lalu ada mengenai pengenalan jenis-jenis sampah mulai dari organik, anorganik, dan sampah B3,

Menyaksikan bagaimana perilaku anak-anak selama mengikuti acara yang berlangsung, telah menggugah saya tentang semangat belajar, tentang rasa ingin tahu yang tiada henti. Dengan pertanyaan-pertanyaan lugu mereka dan juga sikap polos mereka, serta kepuasan yang berwujud kesenangan ketika mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Sejatinya mereka sedang mengajarkan esensi dari belajar yang sesungguhnya, yaitu bertanya dan kesenangan ketika mendapatkan jawabannya.

Anak-anak ini merupakan pembelajar sejati, bertanya..dan bertanya tentang berbagai hal, kenapa ada hujan, kenapa ada banjir, kenapa disini banjir dan disana tidak, kenapa rumahnya banjir melulu, dan kenapa banjirnya bawa lumpur dan masih banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka. Dunia mereka adalah kesenangan dan bermain-main, dalam belajar pun mereka masih bisa bermain-main, mereka senang dengan gambar yang warna-warni, menyukai bentuk cerita atau dongeng, dan kakak-kakak mereka pun seakan-akan memahami hal tersebut meskipun dengan dukungan alat peraga yang seadanya. Sesungguhnya tidak ada materi, yang ada adalah mendongeng, bercerita dan bermain dengan gambar-gambar tentang hujan, tentang sungai yang mengalir, tentang jenis sampah, dan tentang banjir yang melanda. 

Kelompok Rentan

Kalangan anak-anak, apalagi yang usia dini memang menjadi kelompok paling rentan dalam kebencanaan. Ketidakberdayaan mereka perlu di topang dengan pengetahuan yang cukup tentang bencana itu sendiri, termasuk mengajari mereka bagaimana cara untuk mencegah dan apa yang bisa dilakukan oleh mereka ketika bencana terjadi. Oleh karena itu mereka perlu mendapatkan prioritas dalam hal penanganannya. Pemahaman mengenai mitigasi kebencanaan perlu diperkenalkan sejak dini kepada mereka. Berbagai kegiatan seperti sosialisasi ataupun simulasi kebencanaan perlu secara rutin dilakukan, dan lebih bagusnya lagi memang ketika materi mengenai mitigasi kebencanaan dapat dimasukan dalam salah satu materi pelajaran mereka di sekolah, bisa saja sebagai salah satu muatan lokal dengan karakteristik mitigasi kebencanaan yang disesuaikan dengan kondisi setempat, apakah itu bencana banjir, gunung meletus, atau tsunami dan yang lainnya. Sehingga mereka dapat memahami kapan harus melakukan apa dan dalam situasi yang bagaimana. Dari sini, kita berharap dapat meningkatkan kapasitas mereka dan berupaya mengurangi tingkat risiko yang ada dari suatu bencana yang terjadi nantinya.

Jalan Panjang

“jadi tadi dapat materi apa aja” tanya saya kepada salah seorang anak yang sedang berkumpul dengan teman-temannya sambil rehat sejenak, dan dijawabnya secara keroyokan bersama teman-temannya “ada materi tentang banjir pak, tentang sampah, sama hujan”, “jadi kira-kira apa yang menjadi penyebab banjir, hayoo” tanya saya kembali kepada mereka. “sampah pak, sampah yang dibuang sembarangan, trus yang dibuang ke sungai” jawab mereka masih dengan cara keroyokan. “siapa yang pernah buang sampah ke sungai?” tanya saya kepada mereka. Kemudian sambil terlihat malu-malu dan sesekali tengok kanan dan kirinya, akhirnya banyak dari mereka yang mengacungkan tangannya. Kemudian saya coba bertanya kembali kepada mereka,”trus kira-kira setelah acara ini, apa masih akan buang sampah ke sungai” dengan polosnya beberapa di antara mereka ada yang menjawab, “iya”, dan juga “tidak”.

Itulah realita yang ada, keluguan mereka dalam menjawab membuat saya bangga atas kejujuran mereka, dan saya pun meyakini bahwa untuk usia mereka, cara belajar mereka baru sebatas mengamati, melihat dan meniru dari perilaku orang dewasa di sekitar mereka, termasuk belajar dari para orang tua mereka. Artinya perilaku mereka buang sampah ke sungai, bisa jadi karena melihat kenyataan bahwa orang-orang disekitarnya juga melakukan hal yang sama, sehingga mereka menirunya. Oleh karena itu, perubahan perilaku memang bisa menjadi jalan panjang yang harus dilalui, tapi bukan berarti tidak bisa berubah, dengan komitmen dan kesabaran, maka ibarat setetes air, akan dapat melubangi sebongkah batu yang keras sekalipun.

Perlu juga untuk mengikutsertakan peran orang tua mereka dalam kegiatan ini, untuk mendukung dan terlibat aktif secara bersama-sama mempersiapkan anak-anak mereka agar menjadi generasi yang tangguh menghadapi bencana.