Artikel

PENTINGNYA KESADARAN, PASSION DAN FAKTOR INTERNAL DALAM MENUMBUHKAN BUDAYA MEMBACA DAN MENULIS DALAM ARSITEKTUR

HERI ANDONI – S2 RISET ARSITEKTUR

heriSaya ingat dengan kata-kata dari Pak Ekomadyo, untuk membaca kita tidak harus menulis, tetapi untuk menulis kita sangat perlu membaca. Menurut Djago Tarigan dalam Elina Syarif, Zulkarnaini, Sumarno (2009: 5), menulis berarti mengekpresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat, atau pikiran dan perasaan. Bagaimana kita bisa menulis suatu gagasan jika yang ditulis tidak tahu, oleh karena itu kita harus membaca lebih dahulu. Untuk menulis yang baik, baik itu artikel di media populer, karya ilmiah, opini, dan lain-lain kita harus membaca dari berbagai macam sumber untuk memperoleh data dan fakta yang tepat dan mendukung. Jadi, untuk membangun budaya menulis, kita harus terlebih dahulu mengkampanyekan budaya membaca. Budaya membaca sendiri sangat minim dimiliki oleh orang Indonesia, kebanyakan dari kita lebih suka membaca dari internet, seperti blog, dll yang belum jelas kebenarannya. Hasil survey UNESCO tahun 2012, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% atau menempati terendah kedua dari 61 negara yang disurvei (urutan 60 di atas Bostwana, 5 negara terbaik : Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia ). Hal ini berarti dalam 1000 orang Indonesia, hanya satu yang memiliki minat baca (berarti dari sekitar 250 juta penduduk Indonesia, hanya 250 ribu yang memiliki minat baca). Hal ini berbanding terbalik dengan jumlah pengguna internet Indonesia tahun 2016 sebesar 132,7 juta (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) ). Budaya membaca ini bahkan juga minim dimiliki oleh kalangan pelajar/mahasiswa. Perpustakaan seringkali kosong, hanya penuh jika ada pengumpulan deadline tugas dan mencari buku yang terkait (keterpaksaan). Terlebih lagi dalam pendidikan arsitektur khususnya S1 kebanyakan dari kampus tidak diadakan skripsi, hanya berupa tugas akhir studio. Hal ini menyebabkan budaya membaca itu semakin hilang di kalangan mahasiswa arsitektur. Tapi, ada beberapa kampus yang menerapkan persyaratan kelulusan harus mengerjakan tugas akhir studio dan juga skripsi, sebagai contoh UNPAR dan UI. Hal ini tidak lain disebabkan karena sistem pendidikan arsitektur Indonesia yang lebih banyak bermuara ke praktisi dibandingkan akademisi.

Padahal dengan menulis kita dapat mempengaruhi pemikiran orang lain, bahkan membawa perubahan yang besar, apalagi kita sebagai generasi muda diharapkan memegang tongkat estafet pembawa perubahan. Akan tetapi pada jurusan lain yang mengharuskan adanya skripsi, hal ini juga menjadi aneh menurut saya, karena budaya membaca-menulis ini sendiri tidak dikembangkan dalam sistem pendidikan Indonesia, akan tetapi Kemdikbud memaksa mahasiswa untuk menulis karya ilmiah, bagaimana kita bisa secara ajaib membuat karya ilmiah tanpa melewati upaya membangun literasi (baca-tulis) yang kuat?Hal ini yang mengakibatkan banyak mahasiswa di tingkat akhir keteteran dalam penyusunan tugas akhir berupa skripsi. (contoh Jepang yang menggunakan sistem reward dan punishment dan mengharuskan siswa SD membaca 10 menit sebelum belajar 30 tahun yang lalu, lihat hasilnya sekarang di mana Jepang merupakan negara maju dengan budaya membaca yang sangat tinggi).

Saya sendiri berasal dari S1 UNPAR, sehingga berkesempatan mengerjakan tugas studio akhir dan juga skripsi. Sebelumnya saya ingin bercerita kenapa saya suka membaca. Dari SD hingga SMA saya memang gemar membaca, hal ini berasal dari faktor internal dalam diri saya, yang pertama saya adalah orang yang sangat ingin tahu, dan tidak akan berhenti sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaan saya. Yang kedua, sejak SD memang saya mempunyai tekad harus belajar dengan baik supaya dapat meringankan beban orang tua melalui beasiswa dll. Kedua faktor internal ini sangat kuat dari dalam diri saya, sehingga sejak kecil saya lebih senang membaca buku pelajaran, dari hal kecil seperti ensiklopedi, dibandingkan buku fiksi seperti komik dan novel. Saya memang bercita-cita ingin menjadi arsitek sejak kecil, sehingga ketika saya masuk S1 jurusan arsitektur, saya merasa sangat senang karena cita-cita masa kecil bisa terwujud. Akan tetapi, ketika masuk perguruan tinggi jurusan arsitektur, saya merasakan adanya “cultural shock”, di mana ternyata lebih menekankan ke arah praktisi untuk magang dan kerja, dll (semester 1-7) (Saya baru mengenal istilah praktisi dan akademisi setelah lulus S1). Hobi saya membaca waktu itu seakan memudar seiring tuntutan perguruan tinggi arsitektur di mana bacaan diambil yang penting saja, untuk ke arah perancangan. Jujur saya agak keteteran karena ternyata saya lebih berjiwa akademisi dibandingkan praktisi. Ketika semester 8 saya mengambil skripsi, saya diharuskan membaca buku-buku yang banyak, jurnal-jurnal, dan sumber-sumber lainnya saya seakan menemukan kembali passion membaca yang telah hilang. Jujur dari 4 tahun saya berkuliah di S1 bagian yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika proses penyusunan skripsi. Mungkin kalau dalam perbandingan persentase kesukaan menulis dan membaca : merancang saya = 65:35. Skripsi saya ketika S1 pernah saya sajikan dalam seminar internasional SENVAR (Sustainable Environmental and Environmental Architecture) & AVAN (Asian Vernacular Architecture Network) di UNHAS Makassar tahun 2014.

Setelah beres kuliah S1 saya sempat magang di kantor, juga sempat memegang proyek sendiri, saya merasa ada yang hilang, yang saya inginkan lagi, yaitu belajar dan membaca. Oleh karena itu saya lanjut kuliah di sini, di S2 Riset Arsitektur ITB. Ketika saya masuk ke sini semua passion saya dari SD-SMA, redup ketika di semester 1-7, kemudian muncul lagi di semester 8, lalu redup lagi ketika saya bekerja, muncul lagi bahkan semakin besar ketika saya masuk S2 Riset. Rasa ingin tahu saya yang besar, didukung adanya “keharusan” (keharusan yang tidak membebani) membaca buku-buku teori untuk penyusunan jurnal, membuat saya sangat enjoy di sini. Ditambah dengan dukungan dari dosen-dosen yang sangat suportif, seperti Pak Agus dan Pak Hanson yang selalu memotivasi mahasiswa untuk mengirim karya tulis ilmiah ke jurnal-jurnal nasional bahkan internasional, tentunya ikut andil besar dalam menumbuhkan budaya membaca dan menulis dalam arsitektur. Dari kedua dosen ini ditambah dengan dosen mata kuliah lain saya menjadi banyak membaca buku-buku teori, jurnal-jurnal. Dalam kelas analisis data diajarkan tahapan-tahapan pengumpulan data, membaca teori, dan menganalisis data, yang membantu dalam penulisan jurnal. Dalam menulis sebuah karya ilmiah, kita perlu memulai dari hal yang menurut kita menarik, waktu itu saya menulis karya ilmiah “Preferensi Hunian yang Ideal Bagi Pekerja dan Mahasiswa pada Kelompok Umur Dewasa Awal/ Early Adulthood”, karena saya tertarik melihat bagaimana pandangan orang yang sudah bekerja, dan orang yang belum bekerja mengenai hunian yang ideal. Dimulai dari membaca teori-teori yang berhubungan, mengumpulkan data melalui kuesioner, lalu menganalisis dan menginterpretasi data-data tersebut dari teori yang telah kita baca dan kuasai. Puji Tuhan karya ilmiah saya kemarin masuk salah satu best paper dalam IPLBI (Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia) 2016 di ITN Malang, selain teman-teman riset saya angkatan 2016, Atika S1 2015, dan beberapa teman S2 riset 2015. Tips yang mungkin dapat saya berikan untuk menulis dengan baik antara lain : yang pertama tentunya kita harus punya kemauan, kemudian kita harus sadar menulis itu untuk memberikan suatu kontribusi pada pengetahuan atau memberikan pengetahuan baru; antara judul, tujuan, dan isi harus sinkron dan berkesinambungan, gunakan pemilihan kata yang tidak rumit/ to the point, kalimat SPOK yang digunakan harus jelas, dalam tulisan harus jelas 5W+1H (what,when,where,why,who,how).

Secara garis besar, untuk menumbuhkan budaya membaca pertama-tama kita harus punya rasa ingin tahu yang besar dan jiwa kritis terhadap suatu fenomena, rasa yang tidak pernah puas dalam belajar dan mencari ilmu dan menambah wawasan, harus bisa open minded dan tidak membatasi diri untuk menerima pengetahuan baru pandangan baru (tidak berada di zona nyaman), harus netral (jangan puas dari satu sudut pandang saja), rasa ingin memperbaiki sekitar (memiliki simpati dan empati) atau dengan bahasa mudahnya ingin mencari solusi untuk sebuah masalah untuk perubahan yang lebih baik. Sedangkan untuk menulis dengan baik, baik itu berupa opini, karya ilmiah, ataupun buku tentunya kita harus menjadi penulis yang mampu menyampaikan argumen-agumen dari data-data yang valid, bisa dipercaya, tidak bias, dan bisa dites kebenarannya, dengan kata lain kita tidak asal menulis mengikuti perasaan akan tetapi fakta yang dihadirkan harus ada. Oleh karena itu wawasan dari penulis harus luas, bagaimana memperluasnya yaitu dengan membaca.

Saran saya supaya adik-adik mahasiswa dapat menumbuhkan budaya membaca, bisa dimulai dari kesukaannya dulu, misalnya kita menyukai hal-hal yang berhubungan dengan BIM, kita bisa membaca buku-buku yang berkaitan, sehingga tidak merasa “terpaksa”. Lalu misalnya di dalam buku BIM tersebut ada bahasan mengenai material, lalu kita tertarik, kita dapat melanjutkan membaca buku-buku yang berhubungan dengan material, begitu seterusnya (efek domino). Pelan-pelan kita akan merasakan enjoynya membaca tersebut dan pelan-pelan budaya membaca itu akan terus tumbuh. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang malas belajar, membaca, dan menulis. Kita bisa mencontoh Jepang yang sangat maju sekarang akibat budaya membaca dan menulis serta riset yang sangat dikembangkan di sana. Oleh karena itu, jika kita mau menjadi bangsa yang maju, kita bisa memulai dengan menumbuhkan budaya membaca, khususnya dalam ruang lingkup yang kita kuasai yaitu arsitektur. Mari mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri kita sendiri, dan mulai dari sekarang !

”Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”. – Pramoedya Ananta Toer