Sampah dan Kesadaran Kolektif

Oleh : Andri Akbar, Alumnus Program Magister Studi Pembagunan ITB

ANDRI=Ada hal yang menarik dari aksi damai 212 di Monas, Jakarta  dan juga aksi 1212 di Gasibu, Bandung. Yaitu bagaimana manajemen tata kelola sampah yang dilakukan sepanjang aksi berlangsung. ada kesadaran kolektif dari para peserta untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan di sekitar lokasi aksi. Pastinya tidak sedikit sampah yang dihasilkan, dan bukan perkara mudah untuk mengelola tumpukan sampah dari jutaan peserta yang memutihkan monas. Menurut pihak Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, untuk aksi 212, diperkirakan ada sekitar 92 ton sampah  yang diangkut pasca aksi tersebut. Namun sejarah sudah mencatat, aksi yang dilakukan dapat berjalan dengan tertib, dan permasalahan sampah yang sempat dikhawatirkan oleh banyak kalangan dapat ditangani dengan baik dan tuntas.

Tetapi jika mau dibedah lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam aksi damai 212 yang dihadiri oleh jutaan peserta tersebut, sejatinya tidak dapat dipisahkan dari sisi religiusitas para peserta yang merupakan kalangan muslim. Berkali-kali ungkapan “Kebersihan sebagian dari iman”, “islam cinta keindahan” digaungkan. Sehingga hal ini memacu dan termanifestasikan dalam kesadaran kolektif para peserta demi menjaga kesucian aksi yang dilakukan untuk membela agama yang dicintainya.

Yang kemudian menjadi pertanyaan penting adalah, apakah hal yang sama dapat juga dilakukan dalam keseharian yang dijalani, dengan spirit yang sama yaitu melaksanakan perintah agama dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan. Karena sampai saat ini, masih ada setumpuk permasalahan terkait sampah yang  belum terselesaikan, bahkan usaha penyelesaiannya dapat diibaratkan masih jauh panggang dari api, dan juga karena setiap hari kita masih saja disuguhkan dengan penampakan sampah baik yang berbentuk timbunan ataupun yang berceceran di sekitar kita. Seolah-olah kita tidak berdaya dalam menghadapinya. Tetapi kemudian, aksi damai yang dilakukan seakan-akan menjadi angin segar bagi kita, jawaban akan kebuntuan dalam upaya mengatasi permasalahan sampah yang kita hadapi selama ini.

Regulasi
Sebenarnya secara perundang-undangan sudah ada larangan untuk membuang sampah sembarangan, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah pasal 29 (ayat 1(e)) disebutkan, bahwa setiap orang dilarang untuk membuang sampah tidak pada tempat yang telah ditentukan  dan disediakan.  Bahkan dalam Undang-Undang tersebut juga sudah dibahas mengenai apa yang menjadi hak dan kewajiban setiap orang, serta apa yang menjadi tugas dan wewenang pemerintah baik pemerintah pusat, provinsi ataupun pemerintah kota/kabupaten.

Tidak hanya itu, terkait dengan permasalahan sampah ini, pihak Majelis Ulama Indonesia  (MUI) juga turut andil dengan  mengeluarkan fatwa Nomor 47 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Sampah, yang menyebutkan mengenai haram hukumnya membuang sampah sembarangan, hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan bahwa permasalahan sampah sudah menjadi permasalahan nasional yang dapat berdampak buruk terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan, sehingga dirasa perlu untuk mencegah hal ini semakin berlarut-larut. Yang diperlukan kemudian adalah upaya sosialisasi serta penegakan hukumnya.

Tantangan dan Peluang
Tantangan permasalahan sampah kedepannya tentu akan semakin kompleks dan terus meningkat. Jumlah penduduk akan terus bertambah setiap tahunnya, jelas jumlah sampah yang harus diatasi juga akan semakin meninggi angkanya. kemudian  perubahan perilaku konsumsi masyarakat juga semakin tidak terelakan karena faktor gaya hidup dan sebagainya. Hal ini tentunya akan berdampak pada perumusan strategi dan kebijakan yang tepat dan solutif. Tidak bisa lagi menggunakan pola “Business As Usual”. Harus ada upaya penyelesaian yang cerdas dan inovatif. Termasuk juga strategi menumbuhkembangkan kepedulian akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar, kemudian mengubah kebiasaan perilaku masyarakat yang sudah terbiasa membuang sampah sembarangan, agar dengan kesadarannya, bersedia untuk membuang sampah pada tempatnya.

Ketika berbicara peluang, maka sebenarnya ada begitu banyak hal yang dapat dilakukan. Jika bercermin dari aksi damai yang dilakukan, maka bisa saja misalkan, dengan melakukan pendekatan persuasif dari para pemuka agama terhadap para umatnya, bisa dengan cara  dalam setiap penyampaian materi atau ceramah yang diberikan, agar selalu menyelipkan pesan mengenai pentingnya menjaga alam dan bagaimana agama mengajarkan tentang kebaikan, tentang cinta lingkungan, dan kewajiban melestarikan alam,  terlebih lagi misalkan, bagi para kyai atau ustad untuk menyampaikan juga perihal fatwa MUI seperti yang dijelaskan sebelumnya.

Kemudian, peluang yang ada, bisa dilihat dari sisi  sampah sebagai produk. Jika saja kita mau mengelola dengan baik serta berusaha lebih untuk berinovasi dan berkreasi dengan sampah yang kita hasilkan, maka ada beberapa peluang yang bisa didapatkan, diantaranya, mulai dari mengubah sampah menjadi sumber energi, seperti yang dilakukan oleh negara Swedia yang memanfaatkan sampah menjadi sumber pembangkit untuk menghasilkan listrik bagi rakyatnya, atau mungkin dengan mengolah sampah menjadi produk  kerajinan tangan berbentuk tas jinjing, tempat tisu atau pernak-pernik lainnya sehingga dapat memiliki nilai komersial, atau mungkin juga dengan cara mengolah sampah plastik menjadi bijih plastik yang juga dapat menjadi sumber penghasilan dan kemudian di daur ulang menjadi produk yang berguna. Belum lagi jika misalkan untuk sampah organik dari rumah tangga yang bisa kita olah menjadi pupuk kompos, kemudian dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di pekarangan rumah kita sendiri. Yang diperlukan sebenarnya memang hanya sedikit usaha ekstra untuk memilah dan mendaur ulang sampah agar dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kolektivitas
Aksi damai 212 serta 1212 yang telah dilakukan, secara jelas telah memberikan salah satu pelajaran penting kepada kita, yaitu terkait bagaimana tata kelola sampah yang baik. Bahwa sebenarnya kita bisa menyelesaikan permasalahan sampah  yang selama ini kita hadapi, jika saja ada komitmen serta kerjasama dari semua pihak untuk secara kolektif mengelola serta menangani permasalahan ini dengan lebih arif dan bijak. Mudah diucapkan memang dan mungkin akan sulit ditataran implementasinya. Tetapi sekali lagi, bukti nyata sudah ada, tinggal bagaimana kita merealisasikan dan menduplikasi hal tersebut dalam konteks yang sama yaitu mengatasi permasalahan sampah dalam keseharian di lingkungan tempat tinggal kita.

Dalam hal kebaikan menjaga dan melestarikan alam, adalah merupakan tanggung jawab kolektif sebagai mandat dari anak cucu kita kelak, agar bumi yang kita wariskan ini akan dapat tetap layak untuk mereka tinggali. Dan juga agar menjadi sumber keteladanan bagi mereka, untuk kemudian melanjutkan tongkat estafet menjaga alam ini, bagi generasi yang akan datang setelahnya.